Jumat, 14-06-2024
  • Selamat Datang Di Laman web SMAS SHALOM BENGKAYANG

JIKA engkau tawar hati pada masa KESESAKAN KECILLAH kekuatanmu

Diterbitkan :

Abraham, Yusuf, Elia, Daud, Ester, Ayub, Yeremia, Daniel, Yohanes Pembaptis, Paulus, dan masih banyak lagi, bahkan Yesus sendiri. Semuanya pernah mengalami apa artinya kesesakan.

Penulis surat Ibrani menyinggung tentang kesesakan yang dialami Yesus, “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, … yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib…. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa” (Ibr 12:1-2).

Godaan untuk tawar hati biasanya datang di saat kesesakan karena kita tidak ingin berada di dalamnya. Itu juga yang dihadapi Paulus dalam kesesakannya. Namun ia berkata, “Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati…. Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” (2Kor 4:1,16).

Kesesakan adalah bagian yang tak terelakkan dalam perjalanan kita bersama Kristus. Kesukaran, beban hidup, sakit-penyakit, kesusahan, dan kekurangan, bahkan penindasan dan permusuhan, semuanya terkandung dalam apa artinya “kesesakan”.

Rasul Yakobus memakai istilah pencobaan dalam pengertian kesesakan ini, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yak 1:2-4).

Kiranya kita tidak tawar hati ketika menghadapi “ujian terhadap imanmu” (Yak 1:3). Kata “ujian” (“testing”) diterjemahkan dari satu kata Yunani yang sering dipakai dalam kaitan dengan proses pemurnian suatu logam dengan tujuan menghasilkan logam yang berkualitas. Kualitas tersebut hanya bisa diperoleh melalui satu proses.

Pada akhirnya, kesesakan yang kita alami akan membawa kita untuk lebih mengenal dan mengasihi Allah sebagaimana kata Pemazmur, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mzm 73:26).

Soli Deo Gloria.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan